Minggu, 31 Juli 2016

ASAL MULA NANGA MAHAP

Nanga Mahap adalah sebuah desa yang terletak di hulu sungai Sekadau tepatnya terletak di muara sungai Ma,ap atau sungai Mahap, yaitu sebuah sungai yang namanya juga di pakai sebagai nama desa  Nanga Mahap.

Adapun kata “Nanga” sendiri dalam bahasa melayu  sekadau berarti MUARA atau KUALA.Karna  letaknya seperti kebanyakan kampung  melayu pada umumnya yg selalu tidak jauh dari muara atau kuala( Nanga )yang notabene dekat dgn perairan,(sungai atau laut)suku melayu sering juga disebut suku pesisir.dan dalam bahasa melayu sekadau sering di sebut  Juga SENGANAN atau suku AIR Dan dalam bahasa dayak Mahap yaitu suku dayak asli sungai Ma,ap  atau sungai Mahap.Orang dari Suku melayu juga di sebut, NYAGE (NJAGA) yang berarti  sebagai ORANG yang MENJAGA, makna “MENJAGA” disini di ialah: karna hampir semua kampung suku melayu berada di Muara atau Kuala sungai yang merupakan gerbang/pintu masuk keperkampungan perkampungan suku adat dayak yang berada  di pedalam (daratan).
Sedangkan kata“MAHAP”pada  Kata “NANGA MAHAP “ memiliki makna  atau  arti yaitu MA”AF yang juga diambil dari nama sungai “MAHAP” atau sungai ”MA,AP” yang bermuara pada sungai sekadau dan merupakan letak desa “Nanga Mahap”.ada beberapa persi cerita atau legenda yang menceritakan asal  muasal sungai“MA,AP”atau sungai“MAHAP”.Yang  juga merupakan asal  mausal kata  dari nama Desa “NANGA MAHAP”.
1.).pada masa  jaman penjajahan Nippon(JEPANG),ada seorang penduduk,yang di tuduh sebagai bekas antek pemerintah VOC.(penjajah Belanda) yang ditangkap serta disiksa(tampar) oleh tentara  Jepang.lalu di bawa menuju,Riam Semanok,yang pada awal masa penjajahan  Belanda sudah  menjadi  gerbang atau  pintu  masuk oleh para tentara penjajah masa itu menuju  kampung-kampung di hulu sungai  Ma,ap/sungai  Mahap dan  sungai sekadau.(RIAM SEMANOK merupakan lokasi/tempat pelabuhan dan perkemahan tentara VOC atau NIPON pada masa itu.)yang sekarang berada dalam wilayah dusun Engkayak desa NANGA MAHAP. 
Di sepanjang perjalanan Si Penduduk tsb  terus disiksa(ditampar) walaupun sudah meminta ma,af berkali-kali namun,tidak di hiraukan  para tentara penjajah (Jepang)  yang memang terkenal sangat  kejam dan tanpa  ampun.penduduk tsb pun berulang ulang kali meminta ma,af dan terus meminta ma,af nanum tetap saja tentera Jepang tak berhenti menyiksanya.(seperti rakyat indonesia umumnya,pada masa itu penduduk tsb tidak bisa berbahasa indonesia),hingga setiap kali di tampar dia hanya bisa berkata MA,AP TUAN , terus seperti itu berulang kali setiap di tampar oleh tentara Nippon.namun setelah tiba di Nanga Mahap (Riam Semanok) yang  menjadi  tempat  persinggahan  dan peristirahatan para  tentara  penjajah Jepang.si penduduk tsb pun di bebaskan begitu saja oleh tentara Jepang dan dijinkan pulang ke pondok( Langkau) di ladangnya. (beberapa sumber menceritakan penduduk tsb adalah seorang petani yang berasal dari daerah sekadau hilir,yang kemudian menikahi perempuan dari daerah LAMAN PUPUK” yaitu daerah perkampungan suku dayak yang berada di hulu sungai KERIO  Kab.KETAPANG.

Al-Kisah...LAMAN PUPUK” adalah sebuah perkampungan suku dayak yang berada di daerah sungai kerio kabupaten Ketapang yang para penduduknya memiliki umur panjang dan sehat yang menyebabkan angka kematian penduduknya sanggat rendah, bahkan di kisahkan dalam masa 30-40 tahun pun belum tentu ada penduduk desa itu  yang meninggal atau mati. hingga pada suatu masa datang lah seorang penduduk desanya yang kebetulan baru pulang dari salah satu kampung di daerah sungai mahap, dia lalu menceritakan bahwa di daerah sungai mahap sanggat ramai dan meriah. yang kebetulan saat itu di salah satu desa di sungai mahap sedang ada BUKONG’ (yaitu acara pemakaman tradisional masyarakat adat dayak sungai mahap ) menurut adat dan tradisi masyarakat adat dayak di sungai mahap apa bila para  tetua adat (TEMANGGUNG) atau pemangku adat atau orang penting baik itu ketua adat maupun para petinggi kampung seperti dukun adat dan bangsawan,bila meninggal akan dilakukan pemakaman dengan cara diBUKONG.dan pada saat di langsungkan acara tsb semua penduduk kampung tsb menghentikan kegiatan keseharian mereka seperti keladang, berburu, dan sebagainya untuk mengikuti acara pemakaman serta untuk memberi penghormatan terakhir atas jasa jasa orng tsb selama masih hidup.) dan dia pun membandingkan dgn kampungnya yang sepi karna tidak pernah ada kegiatan atau acara keramaian,dan kalaupun ada tidak semeriah dan serame di sungai mahap,seperti yang di saksikan kemarin sewaktu dia berada di suatu kampung di daerah sungai mahap,Akhirnya para tetua kampung dan masyarakat pun penasaran dan terkesima mendengarkan ceritanya.  Keesokan harinya para tetua adat dan petinggi kampung berserta masyarakat bermusyawarah dan mencapai kesepakatan, mereka pun berinisiatif mengadakan keramaian seperti di kampung-kampung di daerah sungai mahap(Megadakan Acara BUKONG),namun terkendala karna tidak ada orang yang mati atau meninggal,karna memang sudah sejak lama penduduk kampung tsb tidak pernah ada yang meninggal atau mati.mereka pun bermaksud hendak membeli mayit atau jasad orang yang sudah meninggal dari kampung-kampung didaerah sungai mahap,dan segera diutuslah seorang tetua adat beserta beberapa orang penduduk kampung untuk pergi ke daerah disungai mahap untuk meminta(membeli) mayit (jasad orang yang sudah meninggal).dan setelah tiba kembali di kampung dengan membawa mayit tdi,mereka pun dengan segera mengadakan acara beBukongan yang sangat meriah,guna memakamkan mayit yang sudah mereka beli dari daerah disungai mahap tadi.Maka diselengarakanlah acara yang sangat meriah dan berlangsung berhari-hari,serta di ikuti seluruh masyarakat penduduk kampung tersbut mulai dari yang tua maupun sampai yang muda semua ikut larut dalam suasana kemeriahan tsb.yang memang sudah sejak lama mereka tidak pernah menyelenggarakan serta merasakan keramaian dikampung mereka sendiri. Dan sejak saat itu tidak pernah ada lagi kabar atau pun orang dari penduduk  kampung tsb.yang datang ke daerah disungai mahap. Sampai pada suatu ketika terdengar kabar atau berita bahwa seluruh isi kampung termasuk penduduk dan binatang ternak.lenyap atau hilang tanpa bekas dan jejak bahkan sampai sekarang tak ada yang tau penyebab pastinya.)(ada sumber yang mengatakan mereka terserang wabah penyakit atau terkena kutukan karna melanggar adat dan tradisi leluhur mereka sendiri. Namun ada juga  yang menceritakan para penduduknya di bantai kelompok PENGAYAU dari suku lain yang jga merampas harta benda dan ternak serta membumi hanguskan perkampungan mereka,Namun beberapa tanaman dan sisa perabot  dari tanah seperti tempayan  beberapa rumpun pohon pinang, mengambarkan bahwa  pernah ada sebuah perkampung msh bisa di lihat disana)
2.).pada suatu ketika di mana masyarakat dayak masih dalam jaman atau masa  “PENGGAYAUAN”  yaitu masa jaman dimana  setiap  kumunitas adat masyarakat  dayak  saling menyerang satu komunitas  adat atau suku  dengan  yang  lain dalam  mempertahankan  wilayah  serta  martabat  adat  mereka, hiduplah dua  orang  tokoh  adat  dari  dua kampung atau  wilayah  yang  berbeda  atau  yang sering  disebut  PANGLIMA  adat yang juga di  anggap pemimpin  atau  kepala  puak atau kepala  suku dalam komunitas adat suku dayak.  Yang memiliki kesaktian  terlibat dalam pertikaian atau pertarungan dalam menguji sekaligus menentukan siapa yang lebih  kuat atau sakti dan layak atau patut menyandang gelar sebagai PANGLIMA sekaligus Pemimpin adat.  pertarungan sengit pun terjadi bahkan berhari-hari, siang dan malam tanpa berhenti,segala kesaktian dan kemampuan  pun di kerahkan serta berbagai macam senjata pusaka nan sakti mandraguna pun di pergunakan,untuk bisa saling menggalahkan dan saling menjatuhkan satu sama lain untuk menjadi pemenang dalam pertarungan tsb. setelah berhari hari bertarung belum juga ada yang menang dan kalah, bahkan konon ceritanya dalam pertarungan atau duel tsb tidak ada satu pun yang terluka bahkan cedera diantara keduanya. Dan pertarungan pun terus berlansung semakin sengit Hingga pada suatu hari keduanya pun sampai di muara atau Nanga sungai Ma,ap atau sungai Mahap mereka akhirnya memutuskan untuk menghentikan pertarungan. dan mereka pun menyadari bahwa mereka masih  dalam satu wilayah yang sama dan juga memang masih dalam satu garis keturunan  adat atau rumpun adat yang sama yaitu keturunan atau rumpun adat suku dayak sungai Mahap (nantinya anak cucu dari keTURUNan suku dayak sungai Mahap yang memeluk agama ISLAM bersama beberapa orang suku melayu dari dareah  SEKADAU  yang datang ke daerah NANGA MAHAP untuk berLADANG dan akhirnya menetap disana  dan menjadi penduduk asli yang menempati  daerah muara sungai Ma,ap atau sungai Mahap yang kini dikenal sebagai Desa NANGA MAHAP ).  Dan pada akhirnya kedua  PANGLIMA  tsb pun saling minta ma,af  satu sama lain dan mereka pun sepakat utk sama sama saling menjaga wilayah sungai Ma,ap  atau sungai Mahap  dari penyerangan dan penyerbuan kelompok PENGGAYAU-PENGGAYAU  dari  komunitas  adat dan kelompok suku dari daerah  lain, yang pada masa itu cukup sering melakukan  PENGGAYAUAN / MENGGAYAU  sampai ke daerah hulu sungai  Ma,ap  atau  sungai  Mahap bahkan sampai hulu sungai Sekadau.
(Demikianlah beberapa cerita atau legenda yang menceritakan asal muasal kata sungai Mahap dan asal nama Desa  Nanga Mahap.)
Lopas dari bonar mada gesah gesah di atas, jadilah urang pema,ap. (orang mahap)

Posting Komentar