Minggu, 29 Januari 2017

PANGLIMA BESAR JENDERAL RADEN SOEDIRMAN

PANGLIMA BESAR JENDERAL RADEN SOEDIRMAN atau yang lebih dikenal sebagai JENDERAL SUDIRMAN adalah salah satu pejuang dan sekaligus pahlawan serta Putra terbaik yang pernah dimiliki Bangsa ini,Ia Lahir:Di Purbalingga pada tanggal;24 Januari 1916, atau (Minggu pon di bulan Maulud dalam penanggalan Jawa).Lahir dari pasangan;Karsid Kartawiraji dan Siyem,pasangan ini tinggal di rumah saudari Siyem yang bernama Tarsem di Rembang,Bodas Karangjati,Purbalingga,Hindia Belanda.Tarsem sendiri bersuamikan seorang camat bernama Raden Cokrosunaryo.Menurut catatan keluarga, Soedirman dinamai oleh bernama Cokrosunaryo,serta mengadopsi Soedirman dan memberinya gelar Raden,gelar kebangsawanan pada suku Jawa.Setelah Cokrosunaryo pensiun sebagai camat pada akhir 1916,Soedirman bersama keluarganya pindah ke Manggisan,Cilacap, Saat berusia tujuh tahun,Soedirman terdaftar di sekolah pribumi (hollandsch inlandsche school).
Pada tahun kelimanya bersekolah,Soedirman diminta untuk berhenti sekolah sehubungan dengan ejekan yang diterimanya di sekolah milik pemerintah belanda itu;Pada tahu kedelapan Soedirman dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa yang akhirnya ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar karena diketahui tidak terdaftar,dan Soedirman pindah lagi ke Sekolah Menengah Wirotomo,yang guru-guru di Wirotomo adalah nasionalis Indonesia,yang ajaran dan Fahamnya turut mempengaruhi pandangannya seorang Soedirman terhadap penjajah Belanda.seorang gurunya bernama Suwarjo Tirtosupono menyatakan bahwa Soedirman sudah mempelajari pelajaran tingkat dua di saat kelas masih mempelajari pelajaran tingkat satu.Meskipun lemah dalam pelajaran kaligrafi Jawa, Soedirman sangat pintar dalam pelajaran matematika,ilmu alam,dan menulis,baik bahasa Belanda maupun Indonesia.Soedirman jug aktif dalam organisasi di sekolahnya diantaranya;sebagai anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo,aktif dalam klub drama,dan kelompok musik,serta olah Raga.Ia bahkan membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan,sebuah organisasi Kepanduan Putra Muhammadiyah.bahkan Soedirman menjadi pemimpin Hizboel Wathan cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo. Soedirman juga belaja Ilmu agama Islam di bawah bimbingan Kyai Haji Qahar ditambah bimbingan gurunya,Raden Muhammad Kholil.Teman-teman sekelasnya memanggilnya "haji" karena ketaatannya dalam beribadah.Kematian Ayah angkat dan selaigus Pamannya Cokrosunaryo pada tahun 1934 menyebabkan kondisi ekonomi keluarganya  semakin susuh,namun Soedirman tetap diizinkan untuk melanjutkan Sekolahnya sampai Ia lulus.Setelah lulus sekolah di Wirotomo pada usia 19 tahun Soedirman belajar selama satu tahun lagi di Kweekschool (sekolah guru) yang dikelola oleh Muhammadiyah di Surakarta,tetapi ia harus berhenti karena kekuarangan biaya.Pada 1936,ia kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah,Pada tahun yang sama,Soedirman menikahi Alfiah,mantan teman sekolahnya dan putri seorang pengusaha batik kaya bernama Raden Sastroatmojo,Alfiah juga aktif dalam kegiatan kelompok putri Muhammadiyah Nasyiatul Aisyiyah.Setelah menikah,Soedirman tinggal di rumah mertuanya di Cilacap,Pasangan ini kemudian dikaruniai tiga orang putra; Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Effendi, serta empat orang putri;Didi Praptiastuti,Didi Sutjiati,Didi Pudjiati,dan Titi Wahjuti Satyaningrum.Berprofesi sebagai guru,Soedirman akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah di sekolah Dasar Muhammadiyah tersebut,meskipun tidak memiliki ijazah guru karena tidak bisa menyelesaikan pendidikan gurunya.Sebagai kepala sekolah,Soedirman masih terus mengajar dan bahkan juga mengerjakan berbagai tugas-tugas lain seperti administrasi,bahkan Seorang rekan kerjanyas sesama guru  mengisahkan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang moderat dan demokratis.Ia juga aktif dalam kegiatan Amal seperti penggalangan dana,baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk kegiatan lainnya.Ia juga merupakan salah satu inisiator berdirinya  organisasi Hizboel Wathan cabanh Cilacap,sebuah organisasi Kepanduan Putra milik Muhammadiyah.Bahkan pada tahun 1937 Soedirman menjadi pemimpin Hizboel Wathan cabang Cilacap,Soedirman bersikeras bahwa kontingen Hizboel Wathan cabang Cilacap harus menghadiri konferensi Muhammadiyah di seluruh Jawa.Sebagai pimpinan sebuah organisasi kepemudaan  Soedirman dikenal sebagai negosiator yang ulung dan mediator yang lugas,Ia juga aktif berdakwah di masjid2 setempat.Selama menjabat,Ia memfasilitasi seluruh kegiatan dan pendidikan para anggota Hizboel Wathan,baik dalam bidang agama ataupun Akadimis.Ia kemudian mengikuti seluruh kegiatan Kelompok Pemuda di Jawa Tengah dan menghabiskan sebagian besar waktu luangnya dengan melakukan perjalanan dan berdakwah,dengan penekanan pada kesadaran diri.
Perjalan Hidup seorang Soedirman tidak habis di situ setelah tentara Jepang menyerang pada tanggal 9 Maret 1942, yang berlanjut ke pendudukan selama tiga setengah tahun.
Ketika Perang Dunia II pecah di Eropa,Jepang,yang telah bergerak mendekati Cina daratan,serta berupaya menginvasi Hindia.Sebagai tanggapan,pemerintah kolonial Belanda yang sebelumnya membatasi pelatihan militer bagi pribumi mulai mengajari rakyat dalam bidang Kemiliteran,Belanda pun kemudian membentuk tim Persiapan Serangan Udara.Soedirman,yang disegani oleh masyarakat,diminta untuk memimpin tim di Cilacap.Selain mengajari warga setempat mengenai prosedur keselamatan untuk menghadapi serangan udara,Soedirman juga mendirikan pos pemantau di seluruh daerah.Ia dan Belanda juga menangani pesawat udara yang menjatuhkan material untuk mensimulasikan pengeboman.Jepang pun mulai menduduki Hindia pada awal 1942 setelah melakukan penyerangan yang di mulai pada tanggal 9 maret 1942 dan memenangkan beberapa pertempuran melawan pasukan Belanda dan tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang dilatih oleh Belanda.Pada penyerangan itu Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Jenderal KNIL Hein ter Poorten menyerah,peristiwa ini menimbulkan perubahan drastis kondisi pemerintahan nusantara serta semakin memperburuk kualitas hidup warga non-Jepang di Hindia,Di Cilacap,sekolah tempat Soedirman mengajar ditutup dan dialih fungsikan menjadi pos militer;pemerintah Hindia pun menutup sekolah-sekolah swasta.Soedirman berhasil meyakinkan Jepang untuk membuka kembali sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi,ia dan guru lainnya pun kembali mengajar dengan menggunakan pasilitas serta perlengkapan alakadarnya. Selama periode ini,Soedirman juga terlibat dalam beberapa organisasi sosial dan kemanusiaan,termasuk sebagai ketua Koperasi Bangsa Indonesia.kedudukan Soedirman serta wibawanya dengan dukungan prinsip dan keteguhannya membuat Ia semakin dihormati di kalangan masyarakat pribumi Cilacap.
Pada awal 1944,Soedirman menjabat selama satu tahun sebagai perwakilan di dewan karesidenan yang dijalankan oleh Jepang (Syu Sangikai),Soedirman diminta untuk bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA).Jepang sendiri mendirikan PETA pada Oktober 1943 untuk membantu menghalau invasi Sekutu, dan berfokus dalam merekrut para pemuda yang belum"terkontaminasi"oleh pemikiran dan faham pemerintah Belanda.Meskipun sempat ragu-ragu, terutama karena cedera lutut yang dialaminya ketika masih remaja,Soedirman akhirnya setuju untuk memulai pelatihan Tentara PETA tepatnya di Bogor,Jawa Barat.Sehubungan dengan posisinya di masyarakat,Soedirman dijadikan sebagai komandan (daidanco) dan dilatih bersama orang lain dengan pangkat yang sama.Dan dilatih lansung oleh para perwira dan tentara Jepang,para taruna dipersenjatai dengan peralatan yang disita dari Belanda.Setelah empat bulan pelatihan,Soedirman ditempatkan di batalion Kroya, Banyumas,Jawa Tengah.
Jabatan Soedirman sebagai komandan PETA wilayah Cilacap tanpa banyak peristiwa hingga tanggal 21 April 1945,ketika tentara PETA di bawah komando Kusaeri mulai melancarkan pemberontakan terhadap Jepang.Soedirman pun diperintahkan untuk menghentikan pemberontakan tersebut,Soedirman setuju untuk melakukannya dengan syarat agar pemberontak PETA tidak dibunuh,dan lokasi persembunyian mereka tidak dimusnahkan;syarat ini diterima oleh komandan Jepang, dan Soedirman yang merupakan Negosiator ulung beserta pasukannya mulai mencari para pemberontak.Soedirman melalui pengeras suara mengumumkan bahwa mereka tidak akan dibunuh,Kusaeri menyerah pada tanggal 25 AprilPeristiwa ini meningkatkan dukungan prajurit PETA pribumi terhadap Soedirman bahkan hingga kalangan tentara Jepang, Namun Beberapa perwira tinggi Jepang tidak menyukai Soedirman,itu karena Soedirman mendukung kemerdekaan bagi Indonesia.Soedirman dan anak buahnya pun kemudian dikirim ke sebuah kamp di Bogor dengan alasan akan dilatih,namun setelah tiba disana Soedirman dan pasukannya justru dipekerja dan dipaksa sebagai pekerja paksa (ROMUSHA)oleh kekaisaran jepang.dan sebagai upaya untuk mencegah pemberontakan terhadap kependudukan jepang di Indonesia santer desas-desus bahwa para perwira PETA akan dibunuh.
Sampai Berita tentang pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 8 agustus 1945 Jepang pun menyatakan menyerah pada tentara sekutu yang kemudian diikuti oleh proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus,kontrol dan kekuasaan Jepang pun mulai melemah.Hal ini di manfaatkan oleh Soedirman dengan memimpin pelarian dari pusat penahanan di Bogor,bahkan beberapa rekannya sesama tahanan ingin menyerang tentara Jepang,Soedirman menentang hal itu dan memerintahkan rekanrekannya untuk kembali ke kampung halamannya,Soedirman pun berangkat menuju Jakarta dan bertemu dengan Presiden Soekarno,yang memintanya untuk memimpin perlawanan terhadap pasukan Jepang di kota.
Soedirman menolaknya,ia malah menawarkan diri untuk memimpin pasukan di Kroya,Soedirman bergabung dengan pasukannya pada tanggal 19 Agustus 1945.Keadatangan pasukan sekutu yang dipimpinmInggris dan memboncengi tentara NICA Belanda  pertama kali tiba pada tanggal 8 September 1945 ingin kembali merebut Indonesia.Baru pada tanggal 22 Agustus 1945,Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya memutuskan untuk membentuk tiga badan sebagai wadah untuk menyalurkan potensi perjuangan rakyat.Badan tersebut adalah Komite Nasional Indonesia (KNI),Partai Nasional Indonesia (PNI),dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).BKR merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang semula bernama Badan Pembantu Prajurit,dan kemudian menjadi Badan Pembantu Pembelaan (BPP).BPP sudah ada sejak zaman Jepang dan bertugas memelihara kesejahteraan anggota-anggota tentara PETA dan Heihō.Pada tanggal 18 Agustus 1945, Jepang membubarkan PETA dan Heihō.Tugas untuk menampung mantan anggota PETA dan Heihō ditangani oleh BPKKP.Pembentukan BKR merupakan perubahan dari hasil sidang PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 yang telah memutuskan untuk membentuk Tentara Kebangsaan,yang diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus 1945.Namun tentara Jepang melihatnya sebagai sebuah ancaman bersenjata terhadap tentara Jepang yang masih ada di nusantara.Bahkan Soedirman dan beberapa rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas pada akhir Agustus,setelah sebelumnya singgah di Kroya dan mengetahui bahwa batalion di sana telah dibubarkan.Dalam pertemuannya dengan komandan wilayah Jepang, Saburo Tamura, dan Residen Banyumas,Iwashige,Soedirman dan Iskak Cokroadisuryo memaksa Jepang untuk menyerahkan diri dan memberikan senjata mereka,sementara kerumunan warga Indonesia bersenjata mengepung kamp Jepang.Sebagian besar senjata ini kemudian digunakan oleh unit BKR Soedirman,menjadikan unitnya sebagai salah satu unit dengan senjata terbaik di Indonesia,dan beberapa senjata juga dibagikan kepada batalion lain.Sebagai negara yang baru merdeka dan belum memiliki militer yang professional.
 pada tanggal 5 Oktober 1945 Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR, sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia).Sebagian besar personelnya adalah mantan tentara KNIL, sedangkan perwira tinggi berasal dari PETA dan Heihō.Dekrit mengangkat Soeprijadi sebagai Panglima Besar TKR,namun ia tidak muncul,dan kepala staff Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo ditetapkan sebagai pemimpin sementara.Pada bulan Oktober,pasukan Inggris,yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang dan memulangkan tawanan perang Belanda,tiba di Semarang, dan kemudian bergerak menuju Magelang,Namun tentara Inggris malah mempersenjatai kembali tentara Belanda yang menjadi tawanan perang dan sepertinya sedang mempersiapkan mendirikan sebuah pangkalan militer di Magelang,Soedirman yang pada saat itu berpangkat kolonel  mengirim beberapa pasukannya di bawah pimpinan Letnan Kolonel Isdiman untuk mengusir tentara sekutu yang diimpin Ingris,misi ini berhasil,dan tentara sekutu menarik diri dari Ambarawa,Soedirman pun membawahi Divisi V setelah Oerip membagi Pulau Jawa menjadi divisi militer yang berbeda.
Pada tanggal 12 November 1945,dalam pertemuan pertama TKR, Soedirman terpilih sebagai pemimpin TKR setelah melalui pemungutan suara,Pada tahap ketiga,Oerip mengumpulkan 21 suara,sedangkan Soedirman unggul dengan 22 suara,para komandan divisi Sumatera semuanya memilih Soedirman.Soedirman, yang saat itu berusia 29 tahun,terkejut atas hasil pemilihan dan menawarkan diri untuk melepas posisi tersebut kepada Oerip,namun para peserta rapat tidak mengizinkannya.Oerip,yang telah kehilangan kendali dalam pertemuan bahkan sebelum pemungutan suara dimulai,merasa senang karena tidak lagi bertanggung jawab atas TKR.Soedirman tetap menunjuk Oerip sebagai kepala staff,Sesuai dengan jabatan barunya,Soedirman dipromosikan menjadi Jenderal.Setelah pertemuan,Soedirman kembali ke Banyumas sembari menunggu persetujuan pemerintah dan mulai mengembangkan strategi mengenai bagaimana mengusir tentara Sekutu.karena Rakyat Indonesia khawatir bahwa Belanda,yang diboncengi oleh Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), akan berupaya untuk merebut kembali nusantara.Tentara gabungan Belanda-Inggris telah mendarat di Jawa pada bulan September,dan pertempuran besar telah terjadi di Surabaya pada akhir Oktober dan awal November.Ketidakstabilan kondisi republiki saat itu,serta adanya keraguan Soekarno atas kualifikasi Soedirman,menyebabkan terlambatnya pengangkatan Soedirman sebagai pemimpin TKR.Sambil menunggu pengangkatannya,pada akhir November Soedirman memerintahkan Divisi V untuk menyerang pasukan Sekutu di Ambarawa,sekali lagi dikomandoi oleh Isdiman,kota itu dianggap penting secara strategis karena memiliki barak militer dan fasilitas pelatihan yang sudah ada sejak zaman penjajahan.Serangan ini dilumpuhkan oleh serangan udara dan tank-tank Sekutu,yang memaksa divisi untuk mundur,Isdiman sendiri tewas dalam pertempuran tersebut,terbunuh dengan diberondong P-51 Mustang.Soedirman kemudian memimpin langsung Divisi dalam serangan lain terhadap pasukan Sekutu,tentara Keamanan Rakyat Indonesia dipersenjatai dengan berbagai senjata,mulai dari bambu runcing dan senjata sitaan sitaan sedangkan tentara sekutu yg dipimpin Inggris dipersenjatai dengan peralatan modern. Soedirman memimpin di barisan depan sambil memegang sebuah katana.Sekutu,yang persenjataannya di dukung fasilitas serangan udaranya telah musnah saat tentara gerilya menyerang Lapangan Udara Kalibanteng di Semarang,berhasil dipukul mundur dan bersembunyi di Benteng Willem.Pada 12 Desember,Soedirman kembali memimpin pengepungan empat hari,yang menyebabkan pasukan Sekutu mundur ke Semarang.
Pertempuran Ambarawa pada awal tahun 1946 membuat Soedirman lebih diperhatikan di tingkat nasional,sekaligus menjawab keragua sukarno  bahwa ia tidak layak menjadi pemimpin TKR karena kurangnya pengalaman militer dan pekerjaannya sebelumnya adalah seorang guru sekolah.Soedirman dipilih karena kesetiaannya terhadap Republik baru ini yang tidak diragukan,sementara kesetiaan Oerip kepada Belanda dipandang dengan penuh kecurigaan.Soedirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada tanggal 18 Desember 145.Dan Posisinya sebagai kepala Divisi V digantikan oleh Kolonel Sutiro.Sudirman pun mulai berfokus pada masalah-masalah strategis.Hal yang dilakukannya antara lain dengan membentuk dewan penasihat,yang bertugas memberikan saran mengenai masalah-masalah politik dan militer.Oerip sendiri menangani masalah-masalah militer.Bersama-sama,Soedirman dan Oerip mampu mengurangi perbedaan dan rasa ketidak percayaan kepada meraka dan antara mereka karena merekan merupakan mantan tentara KNIL dan PETA,Sehingga ada beberapa tentara tidak bersedia tunduk kepada militer pusat,dan lebih memilih untuk mengikuti komandan batalion pilihan mereka.Pemerintah mengganti nama Angkatan Perang sebanyak dua kali pada Januari 1946,yang pertama adalah Tentara Keselamatan Rakjat (TKR),kemudian diganti lagi menjadi Tentara Repoeblik Indonesia (TRI).Pergantian nama ini diakhiri dengan membentuk secara resmi angkatan laut dan angkatan udara pada awal 1946.Sementara itu,pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta pada bulan Januari.Delegasi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir melakukan negosiasi dengan Belanda pada bulan April dan Mei terkait dengan pengakuan kedaulatan Indonesia,namun tidak berhasil.
Pada tanggal 25 Mei,Soedirman dikukuhkan kembali sebagai panglima besar setelah reorganisasi dan perluasan militer.Dalam upacara pengangkatannya,Soedirman bersumpah untuk melindungi republik "sampai titik darah penghabisan."Menteri Pertahanan yang berhaluan kiri,Amir Sjarifuddin,memperoleh kekuasaan yang lebih besar setelah reorganisasi militer,Ia mulai mengumpulkan para tentara sosialis dan komunis di bawah kontrolnya,termasuk unit paramiliter (laskar) sayap kiri yang setia dan didanai oleh berbagai partai politik.Sjarifuddin melembagakan program pendidikan politik di tubuh angkatan perang,yang bertujuan untuk menyebarkan ideologi sayap kiri.Dengan memanfaatkan militer sebagai alat manuvering politik Hal ini tidak disetujui oleh Soedirman dan Oerip,yang pada saat itu disibukkan dengan penerapan perlakuan yang sama bagi tentara dari latar belakang militer berbeda.Namun, rumor yang beredar mengabarkan bahwa Soedirman sedang mempersiapkan sebuah kudeta dan upaya kudeta tersebut terjadi pada awal Juli 1946,Pada bulan Juli,Soedirman mengonfirmasi rumor ini melalui pidato yang disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI), menyatakan bahwa ia,seperti semua rakyat Indonesia,adalah abdi negara,dan jika dirinya ditawari jabatan presiden,ia akan menolaknya.Di kemudian hari ia menyatakan bahwa militer tidak memiliki tempat dalam politik,begitu juga sebaliknya.
Sementara itu,Sjahrir terus berusaha bernegosiasi dengan pasukan Sekutu.Pada tanggal 7 Oktober 1946, Sjahrir dan mantan Perdana Menteri Belanda, Wim Schermerhorn, sepakat untuk melakukan gencatan senjata.Perundingan ini dimoderatori oleh diplomat Inggris Lord Killearn,dan juga melibatkan Soedirman,Ia berangkat ke Jakarta dengan menggunakan kereta khusus pada tanggal 20 Oktober.Namun,ia diperintahkan untuk kembali ke Yogyakarta setelah tentara Belanda tidak mengizinkan dirinya dan anak buahnya memasuki Jakarta dengan bersenjata.Soedirman merasa bahwa perintah tersebut melanggar harga dirinya;Belanda kemudian meminta maaf dan menyatakan bahwa peristiwa ini hanyalah kesalahpahaman.Soedirman berangkat dengan kereta lainnya pada akhir Oktober,dan tiba di Stasiun Gambir pada tanggal 1 November.Perundingan di Jakarta berakhir dengan perumusan Perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 November,perjanjian ini disahkan pada 25 Maret 1947,meskipun ditentang oleh para nasionalis Indonesia.Soedirman secara lantang juga menentang perjanjian tersebut karena ia tahu bahwa perjanjian itu akan merugikan kepentingan Indonesia,namun menganggap dirinya juga wajib mengikuti perintah.
Pada awal 1947, kondisi sudah relatif damai setelah Perjanjian Linggarjati.Soedirman mulai berupaya untuk mengonsolidasikan TKR dengan berbagai laskar.Dalam upayanya ini,Soedirman mulai melaksanakan reorganisasi militer,kesepakatan baru bisa tercapai pada Mei 1947, dan pada 3 Juni 1947,Tentara Nasional Indonesia (TNI) diresmikan. TNI terdiri dari TKR dan tentara dari berbagai kelompok laskar,yang berhasil dirangkul Soedirman setelah mengetahui bahwa mereka dimanfaatkan oleh partai-partai politik.Namun,gencatan senjata yang berlangsung pasca Perjanjian Linggarjati tidak bertahan lama,smpai pada tanggal 21 Juli 1947,tentara Belanda yang telah menduduki wilayah peninggalan Inggris selama penarikan mereka melancarkan Agresi Militer,dan dengan cepat berhasil menguasai sebagian besar Jawa dan Sumatera. Meskipun demikian,pemerintahan pusat di Yogyakarta tetap tak tersentuh.Soedirman menyerukan kepada para tentara untuk melawan dengan menggunakan semboyan"Ibu Pertiwi memanggil!,dan kemudian menyampaikan beberapa pidato melalui RRI,namun upayanya ini gagal mendorong tentara untuk berperang melawan Belanda.Terlebih lagi,tentara Indonesia sedang tidak siap dan pertahanan mereka dapat ditaklukkan dengan cepat.pada 1947 Soedirman terpaksa menarik kembali lebih dari 35.000 tentara dari wilayah taklukan Belanda,Setelah ditekan oleh PBB,yang memandang situasi di bekas Hindia dengan remeh, pada 29 Agustus 1947 Belanda menciptakan Garis Van Mook.Garis ini membagi wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Belanda dan Indonesia.Di sepanjang garis ini,gencatan senjata diberlakukan.Soedirman memanggil para gerilyawan Indonesia yang bersembunyi di wilayah taklukan Belanda,memerintahkan mereka agar kembali ke wilayah yang dikuasai Indonesia.Untuk tetap mengobarkan semangat mereka ia menyebut penarikan ini dengan hijrah,merujuk pada perjalanan nabi Muhammad ke Madinah pada tahun 622 M,dan meyakinkan bahwa mereka akan kembali.Lebih dari 35.000 tentara meninggalkan Jawa bagian barat dan berangkat menuju Yogyakarta dengan menggunakan kereta dan kapal laut.Perbatasan ini diresmikan melalui Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948,penandatangan perjanjian ini di antaranya adalah Amir Sjarifuddin,yang pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri.Dan dii saat yang bersamaan,Sjarifuddin mulai merasionalisasi TNI (Program Re-Ra) dengan memangkas jumlah pasukan yang pada saat itu,tentara reguler terdiri dari 350.000 personel,dan lebih dari 470.00 terdapat di laskar.Dengan adanya program ini, pada tanggal 2 Januari 1948 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.1 Tahun 1948,yang memecah pucuk pimpinan TNI menjadi Staf Umum Angkatan Perang dan Markas Besar Pertempuran.Staf Umum dimasukkan ke dalam Kementerian Pertahanan di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP). Sementara itu, Markas Besar Pertempuran dipimpin oleh seorang Panglima Besar Angkatan Perang Mobil. Pucuk pimpinan TNI dan Staf Gabungan Angkatan Perang beserta seluruh perwira militer dihapus, dan pangkatnya diturunkan satu tingkat. Presiden kemudian mengangkat Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Perang dengan Kolonel T.B. Simatupang sebagai wakilnya. Sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Mobil diangkat Soedirman. Staf Umum Angkatan Perang bertugas sebagai perencana taktik dan siasat serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, sedangkan Staf Markas Besar Angkatan Perang Mobil adalah pelaksana taktis operasional.
Keputusan Presiden ini menimbulkan reaksi di kalangan angkatan perang.Pada tanggal 27 Februari 1948,presiden mengeluarkan Ketetapan Presiden No.9 Tahun 1948 yang membatalkan ketetapan yang lama. Dalam ketetapan yang baru ini,Staf Angkatan Perang tetap di bawah Soerjadi Soerjadarma,sedangkan Markas Besar Pertempuran tetap di bawah Soedirman,ditambah wakil panglima yaitu Djenderal Major A.H. Nasution.Angkatan perang berada di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP) yang membawahi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL), dan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU). Dalam penataannya, organisasi ini dibagi menjadi 2 bagian;penataan kementerian dan pimpinan tertinggi ditangani oleh KASAP,sementara mengenai pasukan serta daerah-daerah pertahanan ditangani oleh Wakil Panglima Besar Angkatan Perang.
Tak lama setelah itu, Sjafruddin digulingkan dalam mosi tidak percaya atas keterlibatannya dalam Perjanjian Renville,dan perdana menteri yang baru,Muhammad Hatta,berupaya untuk menerapkan program rasionalisasi.Hal ini menimbulkan perdebatan di antara kelompok yang pro dan anti-rasionalisasi.Soedirman menjadi tempat mengadu dan pendorong semangat bagi para tentara,termasuk sejumlah komandan senior yang menentang program rasionalisasi.Soedirman secara resmi dikembalikan ke posisinya pada tanggal 1 Juni 1948.Untuk menyelesaikan penataan organisasi ini,Soedirman membentuk sebuah panitia yang anggotanya ditunjuk oleh Panglima sendiri.Anggota panitia terdiri dari Djenderal Major Soesalit Djojoadhiningrat (mantan PETA dan laskar),Djenderal Major Suwardi (mantan KNIL) dan Djenderal Major A.H. Nasution dari perwira muda.Penataan organisasi TNI selesai pada akhir tahun 1948,setelah Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera,Kolonel Hidajat Martaatmadja,menyelesaikan penataan organisasi tentara di Pulau Sumatera.Setelah program rasionalisasi mereda, Sjarifuddin mulai mengumpulkan tentara dari Partai Sosialis,Partai Komunis,dan anggota Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia untuk mengobarkan revolusi proletar di Madiun,Jawa Timur,yang berlangsung pada tanggal 18 September 1948. Soedirman,yang saat itu sedang sakit,mengirim Nasution untuk memadamkan revolusi,Soedirman juga mengirim dua perwira lainnya sebagai antena perdamaian sebelum serangan,meskipun pemimpin revolusi,Muso, telah sepakat untuk berdamai,Nasution dan pasukannya berhasil menumpas pemberontakan pada 30 September. Soedirman mengunjungi Madiun tidak lama setelah pertempuran,ia mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak bisa tidur di sana karena pertumpahan darah yang terjadi.
Pemberontakan di Madiun,dan ketidakstabilan politik yang sedang berlangsung melemahkan kondisi kesehatan Soedirman.Pada tanggal 5 Oktober 1948,setelah perayaan hari jadi TNI ketiga,Soedirman pingsan. Setelah diperiksa oleh berbagai dokter,ia didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC).Pada akhir bulan,ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Panti Rapih dan menjalani pengempesan paru-paru kanan,dengan harapan bahwa tindakan ini akan menghentikan penyebaran penyakit tersebut.Selama di rumah sakit,ia melimpahkan sebagian tugas kepada Nasution.Mereka berdua terus mendiskusikan rencana untuk berperang melawan Belanda,dan Soedirman secara rutin menerima laporan.Mereka sepakat bahwa perang gerilya,yang telah diterapkan di wilayah taklukan Belanda sejak bulan Mei,adalah perang yang paling cocok.Soedirman mengeluarkan perintah umum pada 11 November,dan persiapannya ditangani olehA.H. Nasution. Soedirman dipulangkan dari rumah sakit pada tanggal 28 November 1948.
Meskipun Ia terus mengeluarkan perintah,Soedirman baru kembali aktif bertugas pada tanggal 17 Desember,Seiring dengan semakin meningkatnya ketegangan antara tentara Indonesia dan Belanda,ia memerintahkan TNI untuk meningkatkan kewaspadaan,ia juga memerintahkan latihan militer skala besar dalam upayanya untuk meyakinkan Belanda bahwa TNI terlalu kuat untuk diserang.Dua hari kemudian, diumumkan bahwa mereka tak lagi terikat dengan Perjanjian Renville.Pada 19 Desember,Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua untuk merebut ibu kota Yogyakarta,Pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat, lapangan udara di Maguwo berhasil diambil alih oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Eekhout.Soedirman yang telah menyadari serangan itu,memerintahkan stasiun RRI untuk menyiarkan pernyataan bahwa para tentara harus melawan karena mereka telah dilatih  sebagai gerilyawan.
Isi Perintah KilatNo. 1/PB/D/48:Kita telah diserang.Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo.Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan Gencatan Senjata.Semua Angkatan Perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda.Pidato radio Soedirman, dari Imran (1980)
Soedirman kemudian mengunjungi Istana Presiden di Yogyakarta,tempat para pemimpin pemerintahan sedang mendiskusikan ultimatum yang menyatakan bahwa kota itu akan diserbu kecuali para pemimpin menerima kekuasaan kolonial.Soedirman mendesak presiden dan wakil presiden agar meninggalkan kota dan berperang sebagai gerilyawan,namun sarannya ini ditolak.Meskipun dokter melarangnya,Soedirman mendapat izin dari Soekarno untuk bergabung dengan anak buahnya.Pemerintah pusat dievakuasi ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atas desakan Sultan Hamengkubuwono IX,namun mereka tertangkap dan diasingkan.
Sebelum memulai gerilya,Soedirman pertama-tama pergi ke rumah dinasnya dan mengumpulkan dokumen-dokumen penting,lalu membakarnya untuk mencegahnya jatuh ke tangan Belanda.Soedirman,bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya,mulai bergerak ke arah selatan menuju Kretek,Parangtritis,Bantul.Setibanya di sana,mereka disambut oleh bupati pada pukul 18.00.Selama di Kretek,Soedirman mengutus tentaranya yang menyamar ke kota yang telah diduduki oleh Belanda untuk melakukan pengintaian,dan meminta istrinya menjual perhiasannya untuk membantu mendanai gerakan gerilya.Setelah beberapa hari di Kretek,ia dan kelompoknya melakukan perjalanan ke timur di sepanjang pantai selatan menuju Wonogiri.Sebelum Belanda menyerang,sudah diputuskan bahwa Soedirman akan mengontrol para gerilyawan dari Jawa Timur,yang masih memiliki beberapa pangkalan militer.Sementara itu, Istri Soedirman;Alfiah dan anak-anaknya diperintahkan untuk tinggal di Kraton.Sadar bahwa Belanda sedang memburu mereka,pada tanggal 23 Desember Soedirman memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan ke Ponorogo.Di sana mereka berhenti di rumah seorang ulama bernama Mahfuz;Mahfuz memberi sang jenderal sebuah tongkat untuk membantunya berjalan,meskipun Soedirman terus dibopong dengan menggunakan tandu di sepanjang perjalanan,Mereka terus melanjutkan perjalanan ke timur.
Di dekat Trenggalek,Soedirman dan kelompoknya dihentikan oleh prajurit TNI dari Batalion 102,Para tentara ini diberitahu bahwa Soedirman yang saat itu berpakaian sipil dan dan tidak dikenali oleh tentara yang menghentikan mereka adalah tahanan dan menolak untuk melepaskan Soedirman dan kelompoknya mereka mencurigai konvoi Soedirman yang membawa peta dan catatan militer Indonesia,benda yang mungkin dimiliki oleh mata-mata.Ketika sang komandan, Mayor Zainal Fanani, datang untuk memeriksa keadaan,ia menyadari bahwa orang itu adalah Soedirman dan segera meminta maaf.Mayor Zainal Fanani beralasan bahwa tindakan anak buahnya sudah tepat karena menjaga wilayah dengan saksama.Ia juga menyebutkan tentang sebuah pos di Kediri dan menyediakan mobil untuk mengangkut Soedirman dan pasukannya. Setelah beberapa saat di Kediri,mereka melanjutkan perjalanan lebih jauh ke timur setelah mereka meninggalkan kota pada tanggal 24 Desember,Belanda berencana untuk menyerang Kediri.Serangan Belanda yang berkelanjutan menyebabkan Soedirman harus mengganti pakaiannya dan memberikan pakaian lamanya pada salah seorang prajuritnya,Letnan Heru Kesser yang memiliki kemiripan dengan Soedirman.Kesser diperintahkan untuk menuju selatan bersama sekompi besar tentara,mengganti pakaiannya,dan diam-diam kembali ke utara,sedangkan Soedirman menunggu di Karangnongko,Pengalihan ini berhasil,dan pada 27 Desember,Soedirman dan anak buahnya bergerak menuju Desa Jambu dan tiba pada 9 Januari 1949.Di sana Soedirman bertemu dengan beberapa menteri yang tidak berada di Yogyakarta saat penyerangan:Supeno, Susanto Tirtoprojo,dan Susilowati,Bersama para politisi ini,Soedirman berjalan ke Banyutuwo sambil memerintahkan beberapa tentaranya untuk menahan pasukan Belanda di Banyutuwo mereka menetap selama seminggu lebih.Namun pada 21 Januari, tentara Belanda mendekati desa,Soedirman dan rombongannya terpaksa meninggalkan Banyutuwo,berjuang menembus jalan dalam hujan lebat.
Soedirman dan pasukannya terus melakukan perjalanan melewati hutan dan rimba, akhirnya tiba di Sobo,di dekat Gunung Lawu,pada tanggal 18 Februari.Selama perjalanannya ini,Soedirman menggunakan sebuah radio untuk memberi perintah pada pasukan TNI setempat jika ia yakin bahwa daerah itu aman.Merasa lemah karena kesulitan fisik yang ia hadapi,termasuk perjuangannya melewati hutan dan kekurangan makanan,Soedirman yakin bahwa Sobo aman dan memutuskan untuk menggunakannya sebagai markas gerilya.Komandan tentara setempat,Letnan Kolonel Wiliater Hutagalung, berperan sebagai perantara antara dirinya dengan pemimpin TNI lain.Mengetahui bahwa opini internasional yang mulai mengutuk tindakan Belanda di Indonesia bisa membuat Indonesia menerima pengakuan yang lebih besar,Soedirman dan Hutagalung mulai membahas kemungkinan untuk melakukan serangan besar-besaran.Belanda mulai menyebarkan propaganda yang mengklaim bahwa mereka telah menangkap Soedirman; propaganda tersebut bertujuan untuk mematahkan semangat para gerilyawan.Soedirman memerintahkan Hutagalung untuk mulai merencanakan serangan besar-besaran, dengan prajurit TNI berseragam akan menyerang Belanda dan mununjukkan kekuatan mereka di depan wartawan asing dan tim investigasi PBB.Hutagalung bersama para prajurit dan komandannya,Kolonel Bambang Sugeng, serta pejabat pemerintahan di bawah pimpinan Gubernur Wongsonegoro,menghabiskan waktu beberapa hari dengan membahas cara-cara untuk memastikan agar serangan itu berhasil.Pertemuan ini menghasilkan rencana Serangan Umum 1 Maret 1949; pasukan TNI akan menyerang pos-pos Belanda di seluruh Jawa Tengah.Pasukan TNI di bawah komando Letnan Kolonel Soeharto berhasil merebut kembali Yogyakarta dalam waktu enam belas jam,menjadi unjuk kekuatan yang sukses dan menyebabkan Belanda kehilangan muka di mata internasional,Belanda sebelumnya menyatakan bahwa TNI sudah diberantas.Namun, siapa tepatnya yang memerintahkan serangan ini masih belum jelas:Soeharto dan Hamengkubuwono IX sama-sama mengaku bertanggung jawab atas serangan ini,sedangkan saudara Bambang Sugeng juga menyatakan bahwa dia lah yang telah memerintahkan serangan tersebut.
Karena semakin meningkatnya tekanan dari PBB,pada 7 Mei 1949 Indonesia dan Belanda menggelar perundingan, yang menghasilkan Perjanjian Roem-Royen. Perjanjian ini menyatakan bahwa Belanda harus menarik pasukannya dari Yogyakarta, beserta poin-poin lainnya,Belanda mulai menarik pasukannya pada akhir Juni,dan para pemimpin Indonesia di pengasingan kembali ke Yogyakarta pada awal Juli.Soekarno lalu memerintahkan Soedirman untuk kembali ke Yogyakarta, tetapi Soedirman menolak untuk membiarkan Belanda menarik diri tanpa perlawanan; ia menganggap pasukan TNI pada saat itu sudah cukup kuat untuk mengalahkan pasukan Belanda.Meskipun ia dijanjikan akan diberi obat-obatan dan dukungan di Yogyakarta, Soedirman menolak untuk kembali ke kalangan politisi,yang menurutnya telah sepaham dengan Belanda.Soedirman baru setuju untuk kembali ke Yogyakarta setelah menerima sebuah surat,yang pengirimnya masih diperdebatkan.Pada tanggal 10 Juli, Soedirman dan kelompoknya kembali ke Yogyakarta, mereka disambut oleh ribuan warga sipil dan diterima dengan hangat oleh para elit politik di sana.Wartawan Rosihan Anwar,yang hadir pada saat itu,menulis pada 1973 bahwa"Soedirman harus kembali ke Yogyakarta untuk menghindari anggapan adanya keretakan antar pemimpin tertinggi republik".
Pada awal Agustus,Soedirman mendekati Soekarno dan memintanya untuk melanjutkan perang gerilya;Soedirman tidak percaya bahwa Belanda akan mematuhi Perjanjian Roem-Royen,belajar dari kegagalan perjanjian sebelumnya.Soekarno tidak setuju,yang menjadi pukulan bagi Soedirman.Soedirman menyalahkan ketidak-konsistenan pemerintah sebagai penyebab penyakit tuberkulosisnya dan kematian Oerip pada 1948,ia mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya,namun Soekarno juga mengancam akan melakukan hal yang sama.Setelah ia berpikir bahwa pengunduran dirinya akan menyebabkan ketidakstabilan, Soedirman memutuskan untuk tetap menjabat,dan gencatan senjata di seluruh Jawa mulai diberlakukan pada tanggal 11 Agustus 1949.
Soedirman terus berjuang melawan TBC dengan melakukan pemeriksaan di Panti Rapih.Ia menginap di Panti Rapih menjelang akhir tahun,dan keluar pada bulan Oktober;ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di dekat Pakem.Akibat penyakitnya ini Soedirman jarang tampil di depan publik.Ia dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada bulan Desember.Di saat yang bersamaan,pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.Meskipun sedang sakit,Soedirman saat itu juga diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat.Pada 28 Desember,Jakarta kembali dijadikan sebagai ibu kota negara.
Soedirman wafat di Magelang pada pukul 18.30 tanggal 29 Januari 1950; kabar duka ini dilaporkan dalam sebuah siaran khusus di RRI.Setelah berita kematiannya disiarkan,rumah keluarga Soedirman dipadati oleh para pelayat,termasuk semua anggota Brigade IX yang bertugas di lingkungan tersebut. Keesokan harinya, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta, diiringi oleh konvoi pemakaman yang dipimpin oleh empat tank dan delapan puluh kendaraan bermotor,dan ribuan warga yang berdiri di sisi jalan. Konvoi tersebut diselenggarakan oleh anggota Brigade IX.Jenazah Soedirman disemayamkan di Masjid Gedhe Kauman pada sore hari, yang dihadiri oleh sejumlah elit militer dan politik Indonesia maupun asing, termasuk Perdana Menteri Abdul Halim, Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX, Menteri Kesehatan Johannes Leimena, Menteri Keadilan Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Menteri Informasi Arnold Mononutu, Kepala Staff TNI AU Soerjadi Soerjadarma,Kolonel Paku Alam VIII,dan Soeharto.Upacara ini ditutup dengan prosesi hormat 24 senjata.Jenazah Soedirman kemudian dibawa ke Taman Makam Pahlawan Semaki dengan berjalan kaki,sementara kerumunan pelayat sepanjang 2 kilometer (1.2 mi) mengiringi di belakang.Ia dikebumikan di sebelah Oerip setelah prosesi hormat senjata.Istrinya menuangkan tanah pertama ke makamnya,lalu diikuti oleh para menteri Pemerintah pusat memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung di seluruh negeri,dan Soedirman dipromosikan menjadi jenderal penuh.Djenderal Major Tahi Bonar Simatupang terpilih sebagai pemimpin angkatan perang yang baru.Memoar Soedirman diterbitkan pada tahun itu, dan rangkaian pidato-pidatonya juga diterbitkan pada tahun 1970.


Posting Komentar